Journal

Abner_New_Small.jpg

Alor : Pagi Buta Menuju Takpala

 Adzan Shubuh terdengar sayup-sayup di telinga. Saya bergegas bangun dan mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat shubuh. Bang Mullez Driver kami sudah menjemput kami di depan hotel pada pukul 05.00 WITA. Kami bermaksud mengambil matahari terbit di kota ini, namun kamu belum tahu spot foto dimana yang bagus untuk kami ambil. Maklum masih sangat minim referensi. Jadi kami main tebak-tebakan saja pada saat itu. Pagi buta kami berkeliling dan tak satupun tempat yang cocok bisa kami dapatkan. Kami berhenti di pertengahan jalan di atas bukit dekat Bandara Mali. Cahaya bulan menemani kebingungan kami berempat di sini. Langit gelap kini berpendar menjadi ungu dan jingga tanda fajar mulai tiba. Bang Mullez mengajak kami masuk ke dalam mobil, entah mau di bawa kemana kami dan saya pun hanya bisa pasrah.

Nekad Sunrise 

Pantai Mali Ujung Small 2

Yang melatar belakangi perjalanan Saya di Alor berawal dari rasa penasaran terhadap kebudayaan dan sejarah di Alor membuat rasa keingin tahuan saya semakin mengebu-gebu untuk merasakan langsung kehidupan disana. Akhirnya kami berempat dengan teman-teman memutuskan untuk menjelajah Alor dengan itenarary seadanya yang saya buat. Apabila dari Jakarta, untuk ke Pulau Alor kita harus singgah ke Kupang terlebih dahulu dan melanjutkan penerbangan dengan pesawat TransNusa Kupang - Alor dicapai kurang lebih 50 menit

Pantai Mali Ujung small

Ternyata kami di bawa ke dalam Bandara Mali, Bang Mullez nekat mengantarkan kami ke dalam bandara. Padahal ini tidak boleh dilakukan tanpa memiliki  kepentingan. Pagar pun di buka oleh bang Mullez untuk memasuki Komplek TNI AU, dan Woooohoooo kami ngebut di landasan pacu bandara Mali seperti pesawat  mau  Take Off!!. Bang Mullez sungguh nekat dan gila menurut saya, ini pengalaman saya untuk kali pertamanya mobil masuk landasan pacu pesawat. Dan sesampainya di ujung bandara kami dapat melihat pantai Mali Ujung dan mulai membuka tripod kami dan “Pret” kami semua sibuk pada masing-masing kamera.

 Jalan manis 2

Yang menjadi tujuan utama Saya ke Alor pada dasarnya bukanlah wisata lautnya. Saya sangat tertarik budaya adat di beberapa kampung disini yang masih terjaga. Kampung adat Takpala salah satunya. Kampung adat Takpala terletak di desa Lembur Barat yang  dapat ditempuh kurang lebih 1 jam-an dari Kota Kalabahi. 

KAMPUNG ADAT TAKPALA

Pantai Takpala

"Welcome to Takpala" Tulisan ini terlihat tidak jauh dari lokasi yang kami tuju. Kami pun memarkirkan mobil kami di areal yang cukup luas untuk 4-5 kendaraan. Panorama laut lepas nan indah kami saksikan di tempat ini. Anak tangga dari susunan bebatuan yang di tutupi oleh rindangnya pepohonan menghantarkan kami ke pemukiman yang masih menjaga kekentalan adatnya. Kedatangan kami disambut dengan senyuman hangat oleh seorang gadis kecil yang sedang bermain di halaman depan. 

Saat di dalam kampung masih sangat sepi, tidak tampak ada kegiatan. Kami berempat celingak-celinguk melihat-lihat bangunan rumah adat Alor yang secara umum ada tiga jenis yaitu Kolwat, Kanurawat dan rumah gudang atau juga disebut Fala. Tata letak bangunan juga menarik, rumah adat di dirikan dan di susun dengan pola menyebar dengan mengelilingi  pola topografi tanahnya. Rumah disusun dengan posisi yang  menghadap kepada ruang bersama yang disebut mesang yang dipakai untuk kumpul seluruh warga Abui.

Takpala blog 3

Pak Martinus  saat itu sebagai petugas penerima tamu, mempersilakan kami naik ke atas rumah Lopo. Dan kami dipertemukan dengan kepala suku desa Takpala yang memiliki nama yang serupa dengan penerima tamu yaitu Pak Martinus juga. Beliau bercerita mengenai kebudayaan suku Abui dan potensi pariwisata dari desa ini. Ternyata tamu dari negara Eropa dan Australia lebih banyak berkunjung daripada wisatawan dari negeri sendiri. Selesai bincang-bincang, Pak Martinus mengumpulkan penduduk desa Takpala untuk mempertontonkan tarian khas mereka. 

Takpala blog 1

Cring! Cring! Cring!! Gemericing gelang kaki mengikuti Nyanyian suara parau yang lantang kepala suku. Berpelukan dan bersahutan mengelilingi benda berharga suku Abui yaitu Moko. Moko merupakan benda terbuat dari perunggu dan berbenrtuk seperti cawan yang memiliki ornamen-ornamen khusus yang memiliki nilai hingga puluhan juta. Biasanya suku Abui desa Takpala  menggunakan Moko sebagai mas kawin. Para warga kampung Takpala mengelilingi mesang yang ditengahnya terdapat mesbah yakni berupa tiga batu bersusun yang disucikan oleh kampung tersebut. 

Takpala Blog 2

Tarian yang mereka lakukan merupakan tarian persatuan yang disebut tari lego-lego. Tari lego-lego biasanya dilakukan apabila sedang ada upacara adat, namun kini lebih sering dilakukan dalam menyambut tamu atau acara pernikahan. Setelah tarian lego-lego di lanjutkan dengan tarian Cakalele yang merupakan tarian perang. Tarian ini hanya di lakukan berdua. Yang menjadi kesalahan, kami datang mendadak tanpa mengabari Pak Martinus, sehingga tak banyak yang bisa mengikuti tarian ini. Tarian Cakalele hanya sebentar saja karena kondisi Pak Martinus kurang fit. Padahal saya belum cukup mendapatkan gambar cakep dari tari Cakalele itu. 

Takpala blog 6

Tarian perang selesai saat nya berganti kostum dengan pakai adat Abui. Ya kami dipinjamkan pakaian adat untuk berfoto, lumayanlah sebagai bukti pernah ke Takpala. Kami berempat foto keluarga dan mencari pernak-pernik yang di jual oleh nenek-nenek. 

Takpala blog 4

Hari mulai siang, perut juga mulai lapar karena belum sarapan dari subuh tadi. Maka dari itu saya harus pamit dan makan dulu ya. Semoga Kampung adat ini menjadi kampung yang tetap bersahaja dan tetap terlestari kebudayaan agar anak cucu kita dapat mengenali keberagaman suku dan budaya dari bangsa Indonesia. 

 Takpala Blog 7

  • +62-812-1822-516
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Follow Me!