Journal

Jeremias_Blog_2.jpg

Sasando : Bertahan dari Kepunahan

Mobil yang di kemudikan Yus, driver kami selama di Kupang melaju santai menuju jalan Timor Raya km 22, Dese Oebelo, Kupang Tengah. Iya, Kami menuju kediaman salah satu seniman, mungkin juga budayawan yang legendaris menurut saya. Matanya melirik kedatangan mobil Toyota Avanza silver kami yang baru sampai di depan rumahnya. Ia pun bangkit berdiri bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian daerah beserta topi khas Rote yang terbuat dari anyaman lontar yang bernama ti'Ilangga. Ia bersiap menyambut kedatangan kami. 

Seorang Maestro

Artikel Jeremias 4

Jejeran alat Musik Rote Sasando yang di perjualbelikan (AF-S 35mm f/1.4G)

Pria asal Rote ini sudah berusia lebih dari 75 tahun. Bayangkan? diusia yang sudah senja ini beliau masih terus melestarikan alat musik yang dibawanya dari pulau Rote pada tahun 1985. Kami berempat mendengarkan kisah perjalanan beliau dalam memperkenalkan alat musik yang terbuat dari bambu dan daun lontar ini. Tak heran bila Ia menerima beberapa penghargaan dari kementerian kebudayaan dan pariwisata Indonesia dengan memberikan gelar seorang Maestro dalam hal alat musik tradisional Sasando.

 Artikel Jeremias 3

Pak Jeremias Pah memainkan lagu Indonesia Pusaka (AF-S 35mm f/1.4G)

Wajah nya terlihat penuh semangat dalam menceritakan beberapa penghargaan-pengharagaan yang Ia raih baik lokal maupun Internasional. Ia bangkit berdiri dan berjalan pelan menunjukkan beberapa penghargaan yang ia raih di teras depan rumahnya sekaligus dijadikan show room Sasando yang diperjual belikan sebagai souvenir untuk wisatawan yang berkunjung ke rumahnya. Terlihat tulisan tangan di buku tamu yang mayoritas di kunjungi oleh wisatawan asing yang minat dengan alat musik  ini. Karena fotonya lagi merem jadi saya tidak pasang ketika megang pengharagaannya ya.

Bapak dengan nama lengkap Jeremias Ougust Pah ini ternyata ayah dari Bertho Pah, salah satu peseta acara Reality Show Indonesia Mencari Bakat yang kini sudah sukses memperkenalkan alat musik tradisional ini ke penjuru dunia. Bukan hanya Bertho Pah, Djitron pah sangat lihai dalam memainkan Sasando, Ia memainkan Sasando hingga ke Italia. Eropa punya Harpa , Indonesia punya Sasando. Menurut saya tak perlu malu kita memainkan alat musik tradisional, selama kita tekun dan selalu kreatif dalam berkarya pasti kita mampu membawa Indonesia terkenal dengan keaneka ragaman alat musik tradisonalnya. Tak sia-sia memang perjuangan Bapak Jeremias Pah akhirnya membuahkan hasil yang lura biasa di saat Sasando mulai punah.

Artikel Jeremias 1

Walau sudah berusia senja, namun tetap piawai dalam memanikan Sasando (AF-S 35mm f/1.4G)

"Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya." Kami berempat bernyanyi bersama ketika Pak Jeremias memainkan lagu Indonesia Pusaka dengan senar di Sasandonya. Jari yang sudah tua itu tampak masih lincah dalam memetik setiap dawai. Sungguh kekaguman yang luar biasa dalam hati saya. Beliau mampu membuat alat musik dengan alunan suara bening seperti harpa. setelah itu Iapun memainkan lagu daerah yang membuat kami terhanyut dalam irama musiknya.

Artikel Jeremias 2

Berfoto bersama sebelum berpisah (AF-S 35mm f/1.4G)
(Kiri-Kanan : Dicky, Fakhri, Akmal, Wildan) 

Setelah mempertontonkan kemahirannya dalam memainkan Sasando, kami membeli beberapa souvenir Sasando dengan kisaran harga Rp 35.000 - 400.000 untuk kami bawa pulang. Saya memilih sasando dengan ukuran kecil agar mudah di bawa dan tak rusak apabila disimpan di dalam tas. Lalu kami berfoto bersama dengan Bapak Jeremias sebelum kami berpamitan.

Primadona yang kini Sirna

Lasiana new small 3

Berkunjung ke Pantai Lasiana setelah dari Rumah Pak Jeremias (AF-S 16-35mm f/4G ED VR)

Hari sudah mulai berubah menjadi jingga, tanda waktu sudah menujukkan sore hari. Tujuan kami berikutnya ialah menikmati sunset di pantai yang tidak jauh dari kota Kupang. Ya, Pantai Lasiana menjadi tempat kami untuk menikmati sunset di hari pertama kami di Kupang. Pantai yang cukup luas untuk menyaksikan terbenamnya matahari.

Lasiana New Small

Disapu Ombak (AF-S 16-35mm f/4G ED VR)

Pantai lasiana pernah menjadi "Primadona" di Kupang. Sekitar tahun 1970an pantai ini dibuka untuk umum dan di kembangkan fasilitasnya oleh dinas pariwisata pada tahun 1986. Namun kini pantai ini terlihat seperti terbengkalai. Minimnya penerangan pada malam hari, fasilitas yang kurang memadai, serta akses transportasi umum yang sulit didapatkan untuk mencapai pantai ini, akan tetapi kebersihan di tepi pantai masih bisa ditemui di pantai ini.

Lasiana new small 2

Sunset Time (AF-S 16-35mm f/4G ED VR)

Dulu yang menjadi primadona kini hanya tinggal kenangan. Kami berharap gambar kami mampu menigkatkan para sahabat untuk mengunjungi pariwisata pantai lasiana agar terus semakin maju.

Lasiana new small 4

 After Sunset (AF-S 16-35mm f/4G ED VR)

NOTE :
Driver Santai Bang Yus

Orangnya baik, cenderung diam dan kurang menguasai jalan pariwisata di Kupang, kurang inisiatif dan tidak helpful, namun bagi yang ingin dapat kontaknya : 0823-5957-4280 
Saya mendapatkan driver ini dari jasa rental mobil dari pemiliknya yang ramah bernama :
Pak Andi Mukhlis Dahlan : 0821-4527-27-27. Sangat membantu dalam memberikan panduan jalan ataupun mencari makan yang halal dan enak. Tapi entahlah apakah rental mobilnya masih jalan atau tidak sampai saat ini.

  • +62-812-1822-516
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Follow Me!