Journal

  • Home
  • Journal
  • Perjalanan ke Negeri Sultan Nan Kaya Rempah Dan Sejarah : Ternate & Tidore

Perjalanan ke Negeri Sultan Nan Kaya Rempah Dan Sejarah : Ternate & Tidore

 

Mobil dari taksi online yang saya pesan ba'da Magrib terjebak macet arus lalu lintas after office hour menuju terminal bus Damri di Pasar Minggu. Penerbangan yang di majukan dari jadwal sebelumnya membuat saya tambah khawatir dengan padatnya arus lalu lintas menuju Terminal 2F bandara Soetta dengan penerbangan pesawat Sriwijaya Air menuju Makassar. Akhirnya saya memutuskan turun dari mobil dan mulai berjalan cepat menuju terminal. Sesampai nya di kantor terminal Damri, ternyata bus menuju Soetta sudah jalan. Saya langsung berlari sekencangnya untuk mengejarnya, dan kemampuan lari saya dengan membawa 2 gembolan berat, masih mampu untuk menghentikan bus Damri yang beranjak berangkat di sisi jalan raya Pasar Minggu. 

OPENING

Perjalanan ke ternate ini, Saya membawa tiga tas, tas pertama merupakan tas keril 65L utama yang berisi daily pack, tas kedua, tas kamera seberat 10kg bila dengan tripod compact dari vanguard, dan yang ketiga tas kecil berisi filter lensa, dan segala pernak-pernik lainnya. Saya melakuakn perjalanan ini seorang diri tanpa persiapan dan itenarary, karena memang ini saya lakukan dadakan dan tanpa persiapan apapun. Tetapi karena saya sudah beberapa kali solo karir, sehingga saya bisa lebih mudah untuk adaptasi dengan situasi yang tidak menentu. Namun saya tetap membaca beberapa referensi dari beberapa teman yang baru saya kenal di jejaring sosial dan menggali informasi di tripadvisor dan beberapa blog. Memang tidak mudah mencari referensi yang menurut saya pas mengenai Ternate dan tidore, khususnya bagi saya yang hobby berfoto, dan juga tulisan ini juga mungkin tidak dapat menjadi referensi yang baik pula untuk Anda =).

Pesawat

Singkat cerita saya tiba di Bandara Sultan Hasanudin sekitar pukul 01.00 dini hari, Kondisi bandara terlihat sepi, namun banyak penumpang yang tidur beralaskan karpet di ruang tunggu keberangkatan yang melakukan perjalanan lanjutan ke daerah timur, Papua. Kepala saya terasa begitu berat, ngopi sedikit saja, saya rasa dapat membantu meringankan rasa addicted kopi yang sudah saya alami sedari SMP ini. Double shot Cappucino Starbucks yang saat itu yang tersedia (terlihat). Yah lumayanlah hilang selembar uang biru untuk jatah makan sehari. 

Panggilan pesawat menuju Bandara Sultan Baabulah sudah terdengar, dengan bergegas saya langsung menuju bangku yang sudah saya request dengan intuisi saya agar dapat view terbaik di pagi hari, ya, saya duduk di sisi kiri di jendela, namun sayangnya di bangku ketiga dari belakang. Perjalanan 1 jam 45 menit ini, Saya di temani dengan kamera agar tidak rusuh kala matahari terbit dan view kepulauan Maluku Utara mulai menampakkan batang hidungnya. Estimasi tiba di Bandara Baabulah sekitar pukul 07.00 pagi hari dengan perbedaan waktu 1 jam dari Makassar atau berbeda 2 jam lebih cepat daripada Jakarta.  

Sebelum pendaratan tiba-tiba ada kejadian yang sedikit membuat saya deg-degan, Yaitu sayap di sebelah kiri mengeluarkan asap dan berbunyi "buk buk buk buk" cukup membuat kepanikan bagi yang menyadarinya, Pesawat seolah kehilangan keseimbangannnya. Saat itu dalam hati saya, kalau memang sudah waktunya ya sudah. Namun indikator di kabin pilot mulai hijau kembali tanda masalah sudah di atasi ketika saya tanya seorang awak kabin, Syukurlah saya masih di berikan umur.

Pesawat 2

Pagi itu cukup terang namun di lapisi kabut yang tebal, Tingginya gunung Kie Matubu di kepulauan Tidore  terlihat samar tertutup kabut. Saya terus berdoa agar diberikan cuaca yang baik ketika saya tiba di Ternate. Karena selama seminggu saya memantau melalui Accuweather, Freemeteo hingga bertanya langsung dengan orang setempat melalui jejaring sosial, yang saya daptkan informasinya adalah cuaca buruk sampai ada badai dan hujan sepanjang waktu dari padi hingga sore, bahkan malam pun hujan. JRENG JRENG...informasi itu membuat saya semakin giat berdoa, agar cuaca disana kembali cerah ketika saya berada disana selama 4 hari. 

Benar saja, sesampainya saya di bandara Sultan Babullah cuaca cukup cerah. Gunung Gamalama terlihat jelas dari landasan pacu pesawat. Saya langsung menghubungi Anwar yang menjadi driver saya selama di Ternate. Nah kenapa saya menggunakan kendaraan mobil yang konon sewa kendaraan untuk kelas Avanza disini terbilang cukup mahal, apalagi saya harus mengeluarkan uang Rp 700.000 sendiri untuk biaya sewa, driver dan BBM. Belum lagi biaya makan dan jajan-jajan kecil untuk kami berdua. Yang menjadi alasan saya menggunakan mobil, karena dengan mobil, saya bisa berkeliling di pulau Ternate yang katanya pulau Ternate ini bisa Anda habiskan hanya dengan waktu  kurang lebih 1 jam saja. dengan lebih nyaman pastinya. 

Anwar merupakan tipe orang yang tidak terlalu banyak bicara, banyak tahu tetapi tidak tahu banyak. Ngerti ga maksudnya? maksudnya Anwar ini tahu tempat makan yang enak, penginapan yang rekomended serta destinasi wisata di Ternate. Namun tidak bisa membantu menjelaskan sedikit cerita mengenai sejarah di Ternate. Karena Anwar memang bukan penduduk asli pulau ini, Anwar adalah orang bugis yang mencari peruntungan di Ternate. 

PERJALANAN DI MULAI DARI PERUT

Bubur

Tujuan pertama adalah sarapan dulu. Saya sarapan di Bubur Ayam Sabua 2 di dekat Hypermart. Hmmmm dengan harga Rp 12.000 Saya sudah dapat menghangatkan perut dengan bubur yang sedap ini. Mungkin ini satu-satunya tempat makan yang sudah buka di kala pagi. Setelah sarapan, saya membuka google maps untuk memastikan posisi saya saat itu. Dan saya memutuskan untuk  berkeliling di mulai dari sisi timur lalu ke bawah mengitari ke atas dan kembali lagi ke sisi barat untuk mengambil sunset di Pantai Kastela yang terletak di belakang Benteng Kastela.

BENTeng KALAMATA

Kalumata

Benteng Kalamata adalah objek pertama yang saya kunjungi di teriknya pagi. Benteng yang menjadi saksi bisu akan pahitnya penjajahan oleh bangsa Portugis ini terlihat begitu megah dan terlihat artistik. Dibangun pada tahun 1540 untuk menjaga pulau Ternate tidak di ambil alih oleh bangsa Spanyol. Wow umurnya sudah sangat tua, sekitar hampir 500 tahun yang lalu. Benteng Kalamata atau Kalumata dikenal juga dengan Benteng Santa Lusia atau Benteng Kayu Merah karena letaknya yang berada di Kelurahan Kayu Merah. Dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dari pusat kota Ternate.

Kalamata

Gaya sentuhan arsitektur Bangsa Portugis yang melekat pada benteng ini dapat dilihat dari banyaknya sisi lancip dan tebal dinding yang kurang lebih hanya 60 centimeter dengan tinggi sekitar 3 meter saja. Tidak seperti benteng buatan Belanda dengan dinding yang tebal. Selain itu, Benteng ini juga dilengkapi dengan empat bastion dari empat penjuru mata angin dengan beberapa lubang bidik senjata di tiap bastionnya. Sisa pondasi bangunan pun masih dapat dilihat di lapangan tengah benteng, termasuk sumur kuno yang menjadi sumber air para serdadu di masa lampau. 

Benteng Kalamata 2

Teriknya matahari membuat saya ga konsen, kacamata melorot-melorot di hujani keringat membuat saya malas explorasi angle lebih lama. Nyari ruangan ber AC sambil minum es kelapa mungkin bisa menjadi pilihan tepat untuk saya kala itu. Tidak puas berfoto, akhirnya saya sudahi saja untuk memotret di benteng tersebut. Tidak ada biaya yang dikenakan bila mengunjungi benteng ini. Namun bila pengunjung ingin memberikan sumbangan sukarela untuk partisipasi dalam upaya pelestarian dan perawatan benteng ini, pihak pengelola akan menerimanya dengan senang hati.  

Benteng Kalamata 3

DANAU LAGUNA (NGADE) SPOT TERBAIK MELIHAT KEINDAHAN TERNATE & TIDORE

Setelah dari benteng Kalamata, tujuan kami berikutnya adalah menuju sebuah danau nan cantik yang berada di pinggir laut. Uniknya, meskipun letaknya di pinggir laut namun air yang terdapat di danau laguna ini tetap menjadi danau air tawar yang juga terdapat budi daya ikan air tawar seperti ikan nila dan gurame.

Danau ngade

Untuk melihat view terbaik nya, Anda harus berkendara menaiki bukit terjal yang mungkin sekitar pinggang nya gunung Gamalama. Dari atas Anda dapat melihat hamparan danau, laut dan gunung yang sangat indah. Danau Laguna ini disebut juga danau ngade karena terdapat di desa Ngade, kelurahan Fitu. 

Danau Laguna 3jpg

Namun kini danau ini tidak se alami dulu, karena sudah ada spot foto untuk "action" bagi para instagramers agar terlihat exists dan tetap gaya, seperti tersedia hammock, dahan kayu, dan lain-lain. Saya tidak mengetahui harga yang dikenakan untuk berfoto disana karena saya tidak mencobanya. Saya naik lebih keatas sedikit agar terlihat masih alami, namun dikenakan biaya masuk sekitar Rp 5.000 seingat saya. Cuaca cerah dengan awan tebal yang menutupi gunung Kie Matubu di pulau Tidore, dan saya mulai berfoto disana sambil bersantai menikmati keringat yang bercucuran.

Danau Laguna 5

Benteng dan Pantai Kastela 

Kastela BW Copy

Dari selatan pulau Ternate, kami pun beranjak ke arah barat. Kami menuju ke pantai Kastela. Kata driver saya Anwar, lokasi ini jarang menjadi minat para wisatawan. namun mungkin bagi fotografer dan penikmat sunset merupakan lokasi yang must visit. Ya terbukti kami harus mencari-cari lokasi persis untuk memasuki wilayah pantai yang tepat berada di belakang benteng Kastela ini. Setibanya disana Pantai memang terlihat sepi oleh pengunjung. Hanya ada anak-anak penduduk setempat yang sedah main meriam dari sebilah bambu yang di tembakkan ke lautan Halmahera seolah  mereka sedang perang. 

Kastela Day

Saya berjalan sendiri untuk melihat-lihat lokasi yang cocok untuk di ambil foto. Sekumpulan pohon mangroove tua yang ikonik itu seolah melambai memanggil di saat air sedang pasang. Alasan malas berbasah-basah membuat saya hanya mengambil gambar di tepi-tepi pantai saja. Suasana begitu hening, hanya di temani suara deburan lembut ombak, kicauan burung-burung dan sesekali letusan meriam anak-anak. 

Kastela sunset

Puas berfoto di pantai, saya lanjut berjalan menuju puing-benteng Kastela. Sesuai namanya benteng ini terletak di kelurahan Kastela, letaknya persis di belakang masjid. Benteng ini sudah tidak berbentuk utuh, walaupun memiliki lahan seluas 2.724 meter persegi namun benteng ini kini hanya bersisa tidak lebih dari setengahnya.

Kastela Cengkeh

Kastela

Danau Tolire Besar & Kecil

Danau Tolire

Tiba-Tiba saya sampai di kawasan wisata Danau Tolire. Rupanya saya tertidur cukup pulas selama perjalanan dari Kastela menuju danau ini. Sesampainya di lokasi, rupanya danau ini lebih famous daripada lokasi wisata lainnya. Lahan parkir yang cukup luas hingga jajanan es kelapa dan gorengan sudah tersedia di lokasi wisata danau Tolire ini. Ya sudah sambil motret-motret saya pesan pisang goreng dan es kelapa untuk kami nikmati berdua. iya berdua, dengan Anwar driver saya.

Menarik nya di lokasi ini ada atraksi lempar batu. Untuk membuktikan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu melempar hingga ke tengah danau yang memiliki luas 5 hektar dan kedalaman hingga 50 meter. Biasanya, sejauh apapun lemparannya,  lemparan itu hanya akan berakhir di pinggir danau, atau kembali ke tebing tempat berpijak. Penasaran? Silakan Anda beli batu-batu kerikil yang di jual di lokasi itu.

Sekilas mengenai asal-usul Danau Tolire ini konon terjadi akibat dari perbuatan dosa seorang Ayah sekaligus pemimpin di suatu desa yang berada di kaki gunung Gamalama. Hukuman sosial di berikan oleh penduduk setempat dengan mengusir ayah dan putrinya yang melakukan hubungan hingga hamil tersebut. Namun belum sempat pergi, sebuah gempa bumi yang amat dahsyat terjadi yang melanda desa tersebut sehingga menenggelamkan desa serta penduduknya ke dalam bumi yang akhirnya desa tersebut kini berubah menjadi danau  raksasa yang disebut danau Tolire besar.

Tak hanya sampai disitu, sang putri pun melarikan diri ke pesisir pantai namun kutukan gempa tersebut terjadi juga di tempat putri tersebut berpijak yang kini menjadi danau yang lebih kecil disebut Danau Tolire kecil. Konon katanya buaya putih yang tinggal di danau Tolire besar merupakan penduduk desa tersebut yang ikut kena kutukan akibat dosa yang diperbuat seorang ayah pemimpin desa bersama putrinya. 

Wisata Snorkling di Pantai JikoMalamo

JikoMalamo

Tidak lama saya di danau Tolire kecil karena pasirnya panaaaas sekali, kepala rasanya mendidih juga saat itu, sehingga menyebabkan selera nusantara untuk mengambil banyak foto disana. ya asal jepret saja lah. Perjalanan berikutnya mulai ke arah utara, tepat di atas pulau menuju pantai yang sedang di bangun dan di promosikan yaitu pantai Jikomalamo. Pantai yang katanya baru-baru ini sedang hits banget kian ramai di padati pengunjung pada saat weekend atau hari libur. Apa yang di tawarkan oleh pantai ini? Air biru jenih yang tampak menyegarkan. Mungkin bila saya bawa pakaian ganti cukup banyak, saya akan nyebur juga kalai itu.

JikoMalamo 2

Pantai ini berpasir putih bersih yang lebarnya hanya sekitar 100 meter saja. Meski pantai berpasirnya sempit, tapi panorama bawah lautnya sangatlah menawan. Bahkan saking jernihnya, pemandangan alam bawah airnya tampak terlihat jelas jika dilihat dari atas air. Terumbu karangnya besar-besar dan ikan-ikannya sangat banyak dalam berbagai jenis. Jangan lupa membawa kamera bawah air untuk memotret keajaiban alam di perairan Pulau Jikomalamo. Tidak heran kalau para pecinta snorkeling pun banyak yang menyempatkan waktunya ke pantai.

Birunya Pantai Sulamadaha

Mungkin Anda pernah mendengar nama pantai yang sempat viral di sosial media ini. Dengan foto sebuah perahu dengan air yang tampak begitu jernih seperti kaca berwarna biru. Namun sayang di sayang, ketika saya sampai di lokasi ini tidak menemukan kapal yang sejenis ini sedang parkir persis seperti foto yang sempat viral.

Sulamadaha

 Walaupun pasirnya tidak seputih seperti di pantai-pantai Bali namun bening nya air di pantai ini sangat memikat tubuh yang panas untuk segera menceburkan diri. Dengan suasana pohon yang rindang, lokasi ini sangat cocok untuk refreshing bersama keluarga. Tidak usah khawatir kelaparan, di pantai ini sudah banyak jajanan yang bisa menjadi pilihan untuk santap siang bersama keluarga.

Sulamadaha 2

Selain itu, di pantai ini Anda dapat menyewa perahu dengan biaya sebesar Rp 50.000. Anda perlu berjalan selama 5-10 menit ke arah kiri pantai menyusuri jalan kecil berupa pinggiran tebing untuk menemukan suatu wilayah yang istimewa yang disebut teluk Saomadaha yaang merupakan teluk dengan air yang sangat jernih. Bila ingin berfoto, sebaiknya Anda membawa filter CPL agar dapat mengurangi pantulan cahaya di air, sehingga air tampak begitu jelas dengan kontras dan warna yang baik. Tidak seperti saya, tidak memakai CPL sehingga, mengurangi kejernihan air. 

KULIT HANGUS di BATU ANGUS

Batu angus 1

Walaupun sudah lelah, dan beberapa wisata pantai saya lewati karena sudah capek, Kami akhirnya mampir ke Batu Angus. Kenapa di sebut Batu Angus? karena Batu ini berwarna hitam seperti kulit saya saat itu terbakar ganasnya matahari. Batu-batu hitam besar berserakan dengan permukaan tajam di atas tebing kaki gunung Gamalama ini merupakan muntahan lahar yang terjadi pada abad ke-17. Lahar yang telah berubah menjadi batu itu tampak seperti batu yang baru hangus terbakar. Dinamakan batu hangus karena lava-lava beku ini memiki warna yang hitam kelam. Selintas batu ini memang biasa saja, tapi bila melihatnya secara keseluruhan Anda akan melihat keindahan lain dari kumpulan batu-batu ini.

Batu angus 3

Batu angus 2

Di objek wisata Batu Angus itu ada situs sejarah berupa tempat tewasnya seorang tentara Jepang yang parasutnya tidak terbuka normal saat terjun dari pesawat pada perang tahun 1945. Selain itu dari lokasi ini anda bisa melihat gagahnya Gunung Gamalama dengan kawah bekas letusannya, dan birunya perairan laut Ternate.

Batu angus 4

COTO MAKASSAR di TERNATE

Saatnya santap siang, kini yang menjadi pilihan untuk santap siang adalah Coto Makassar. Anwar mengantarkan saya ke Coto Makassar yang katanya paling lezat se-Ternate, benarkah demikian? Ternyata benar saudara-saudara. Rasanya enak, Ketupat di hargai Rp 2.000 dan coto Rp 20.000. Anda bisa menemukan Coto Makassar ini di kelurahan Takoma, di sebehnya ada tukang pangkas rambut.

Coto Makassar

 

Setelah perut sudah terisi, kami melanjutkan isi perut kembali di Restoran Floridas. Restoran ini katanya paling femes karena menawarkan keindahan panorama alam yang menjabukan. Restoran ini berhadapan langsung dengan pulau Maitara dan Tidore. Wah bisa bersantai disini sangat mengasyikkan. Di Resto ini kami hanya mencicipi pisang bakar dengan es krim dan mencari inspirasi bersama kopi cappucino yang kemanisan. 

Coto Makassar 2

Resto Floridas ini menyediakan musholla, sehingga saya bisa menunaikan ibadah shalat Jama' Ashar dan Zuhur pada saat itu. Jadi Resto Floridas ini cocok bagi Anda yang datang beramai-ramai, karena resto ini cukup luas dengan suasana yang nyaman. Siapkan kamerabersama flash anda bila ingin selfie. Agar anda bisa berfoto tanpa terjadi backlight pada hasil fotonya. 

 Uang Seribu di PANTAI FITU

Pantai fitu

Setelah makan siang yang sedikit kesorean. Saya beranjak menuju ke pantai legend, yaitu pantai Fitu. Kenapa Legend? Karena pantai ini Anda bisa mendapatkan pemandangan Pulau Tidore dengan gunung Kie Matubunya beserta Pulau Maitara berhadapan langsung dengan Anda. Pantai ini tidak jauh dari Resto Floridas, Anda hanya tinggal berkendara ke arah kiri (bawah). Memang pantai ini sepertinya bukan pantai wisata seperti Pantai Nukila dan Fala Jawa yang di hias sedemikan rupa sehingga terlihat cantik. Pantai ini tidak ada lahan parkir, cenderung sempit, dan terlihat kotor, mungkin karena lokasi ini di pakai untuk pembuatan kapal nelayan.

Pantai fitu 2

Jalan Pagi di FORT ORANJE

Oranje 1

Benteng oranje ini menarik, terletak di tengah kota Ternate. Benteng yang menjadi peninggalan Belanda pada masa perdagangan rempah ini di bangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge (Belanda) dan diberi nama oleh Francois Witlentt path tahun 1609. Kami mulai memasuki pelataran benteng. Benteng ini terlihat bersih dan terawat dan seperti masihaktif digunakan, dapat terlihat dari beberapa bangunan yang masih berdiri kokoh. Kini benteng ini di pugar kembali agar menjadi daya tarik para wisatawan yang berkunjung ke Ternate. 

Oranje 2

Oranje 4

Fort Oranje menjadi benteng terbesar di Ternate. Pembangunan benteng Fort Oranje tersebut sebagai bentuk terimakasih Sultan Ternate kepada Laksamanan Cornelis Matelieff de Jonge karena telah membantu Sultan Ternate berhasil mengusir bangsa Spanyol dari daerah Kesultanan Ternate ketika itu. Selain lonceng besar, meriam, di tempat ini pengunjung dapat melihat pemandangan dari atas benteng Fort Oranje.

oranje 5

oranje 6

Tak ada biaya masuk ketika kami berkunjung ke benteng ini. 

BENTENG TOLUKKO

Salah satu saksi sejarah yang masih ada hingga saat ini adalah bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat rapih di Ternate. Walaupun sudah tidak berfungsi seperti tujuannya didirikan, namun lewat bangunan-bangunan ini saya dapat memahami betapa luar biasanya kisah perjalanan masyarakat Ternate dari masa ke masa. Benteng Tolukko adalah satu dari sekian banyak benteng yang menyimpan kisah sejarah perjalanan Ternate. Hingga kini, Benteng Tolukko masih berdiri kokoh di atas bukit batu yang berada di Kelurahan Sangadji, Ternate Utara.

Benteng Tolukko 1

Seperti halnya banyak benteng di Ternate, Benteng Tolukko pada awalnya merupakan bangunan buatan Portugis yang menguasai hampir seluruh perdagangan rempah di Ternate pada abad ke-16. Seorang panglima tentara Portugis yang bernama Fransisco Serraow membangun benteng yang pada awalnya bernama Santo Lucas ini sebagai pertahanan sekaligus pusat penyimpanan rempah-rempah asli Ternate yang akan mereka perdagangkan. Benteng ini berada pada tempat yang sangat strategis karena sangat dekat dengan wilayah perairan, berada di puncak bukit yang cukup tinggi dan dapat menjadi tempat sempurna untuk mengawasi segala gerak-gerik yang terjadi di Istana Kesultanan Ternate.

Benteng Tolukko 2

Nama Tolukko yang melekat pada Benteng ini hingga saat ini juga menyimpan cerita yang tidak kalah menariknya. Satu kisah menyebutkan bahwa nama Tolukko ini digunakan sejak salah satu Sultan Ternate yang bernama Kaicil Tolukko memerintah sekitar tahun 1692. Sumber lainnya menyebutkan bahwa nama Tolukko merupakan modifikasi penyebutan nama asli benteng ini yaitu, Benteng Santo Lucas. Alkisah ini menceritakan bahwa karena tidak jelas melafalkan Santo Lucas, masyarakat asli Ternate akhirnya menyebutnya dengan Tolukko. Memang masih ada ketidakjelasan tentang sejarah nama Tolukko ini, namun hal ini menjadi tidak penting lagi ketika saya mengetahui begitu besar peran dari Benteng ini bagi setiap penguasa mulai Portugis, Belanda, bahkan Kesultanan Ternate sendiri.

Benteng Tolukko 3

Konon, benteng ini mempunyai satu lorong rahasia yang langsung tembus ke wilayah pantai. Pada masa penguasa Portugis dan Belanda, lorong ini digunakan sebagai sarana melarikan diri apabila terjadi pemberontakan atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Namun, sejak tahun 1996 benteng ini dipugar dan lorong tersebut ditutup untuk selamanya demi alasan keamanan. Hal ini bukanlah masalah besar karena Benteng Tolukko tetap menjadi bangunan bersejarah yang megah dan indah. Benteng ini menjadi sajak yang nyata dari setiap kisah perjalanan Ternate di masa lalu. (Paragraf Benteng Tolukko seluruhnya bersumber dari : [Phosphone/IndonesiaKaya] )

Benteng Tolukko 4

Setelah berpanas-panasan dan puas berfoto di Benteng ini, Saya sempat berbincang dengan seorang ibu yang tinggal di kawasan benteng ini. Keluarga nya yang merawat benteng ini dari lumut dan rumput liar yang tumbuh. dari seluruh benteng di Ternate, menurut saya pribadi, benteng Tolukko inilah yang paling asri dan bersih. Saya menyisihkan sedikit uang sukarela kepada ibu penjaga walau ia tidak meminta. Itu merupakan penghargaan yang Saya berikan kepadanya, karena telah merawat benteng ini hingga terlihat bersih. Tak lama berbincang, Kami langsung berjalan menuju pelabuhan Bastiong untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Tidore. Disinlah perpisahan antara Saya dan Anwar. Nantikan perjalanan di Tidore ya, kalau saya tidak malas. 

Benteng Tolukko 5

  • +62-812-1822-516
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Follow Me!