Journal

  • Home
  • Journal
  • Mengubek Eksotika Negeri Flores Part I (Flores Overland)

Mengubek Eksotika Negeri Flores Part I (Flores Overland)

Hari Pertama Dari Enam Hari di Pulau Flores, NTT

Perjalanan menyenangkan bersama pilot NAM Air dari Bali menuju timur pulau Flores, yaitu Maumere. Dari Bali hingga Sumba, pilot dari maskapai ini bercerita mengenai pariwisata di setiap pulau yang di lewatinya, dimulai Gunung Agung, gunung Rinjani, gunung Tambora, hingga lubang raksasa hasil eksploitasi dari perusahaan New Mont.

New Mount WebSebuah Exploitasi Tambang di Nusa Tenggara 

Perjalanan 1 jam 25 menit kami lewati dengan menyaksikan keindahan kepulauan Indonesia. Perjalanan ke Flores ini merupakan impian saya sejak dahulu, yang pada akhirnya menjadi kenyataan (2014). Saya berangkat dengan "Klub" kami Jalan-Jalan Manis Klub yang sudah beberapa kali melakukan perjalanan bersama yang terdiri dari Saya sendiri, Bung Akmal, Bung Dicky, Bung Wildan dan Bung Priyo. (kini JJM vakum).

Maumere City Web
View dari Maumere dari atas Bukit Nilo
Nikon D800 + AF-S 70-300mm f/4.5 - 5.6 VR (1/800, f/5.6, ISO 125)

Tanpa terasa, pesawat yang kami tumpangi sudah sampai di bandara Frans Seda di Maumere. Kami sudah di jemput oleh driver yang siap mengantarkan kami mulai dari timur sampai barat Flores. Bang Jefri namanya, seorang driver yang sudah memiliki jam terbang tinggi wisata overland di flores. Maumere menjadi titik awal mulai perjalanan kami. Maumere merupakan ibukota dari kabupaten Sikka yang memiliki pusat sejarah berkembangnya agama Katolik Roma di Flores.

Bukit Nilo, Maumere

Sikka 5 web 
Tatapan ke Penjuru Kota  Dengan Tangan Terbuka Seolah Memberikan Perlindungan
Nikon D800 + AF-S 85mm f/1.4G Nano (1/640, f/8 ISO 100)

Kalau Anda tahu di Rio De Jenerio memiliki patung raksasa Christ The Redeemer setinggi 38 meter pada puncak gunung Rolantes, Di Maumere juga memliki patung setinggi 28 meter yang berada di Bukit Nilo, yaitu patung Maria bunda segala bangsa.

Sikka 7web
Mother of All Nations
Nikon D810 + AF-S 16-35mm f/4 VR Nano (1/320, f/8, ISO 125)

Patung Bunda Maria ini menatap dengan tangan terbuka ke seluruh penjuru kota Maumere seolah memberikan perlindungan. Seluruh kota Maumere tampak begitu jelas dari puncak ini. Jarak 16km dari kota Maumere dapat di tempuh dengan kendaraan kurang lebih 30 menit dengan jalan yang kecil dan berliku yang kami lewati untuk menuju ke bukit Nilo.

Nilo 1 web
Pemukiman penduduk Tepi Laut Utara Maumere
Nikon D800 + AF-S 70-300mm f/4.5 - 5.6 VR (1/200, f/10, ISO 125)

Sesampainya kami di Bukit Nilo terdengar suara iringan musik organ dengan irama musik klasik. Ternyata sebentar lagi akan ada kegiatan ibadah umat katolik menjelang kenaikan Isa Almasih. Kami pun sungkan untuk berlama-lama disana. Memang sungguh indah pemandangan dari bukit ini. Seakan langit, daratan dan lautan menyatu tercoret dalam satu bingkai lukisan.

Saksi Sejarah : Gereja Sikka 

Gereja Sikka Web 3
Nikon D810 + AF-S 16-35 f/4 VR Nano (1/20, f/16, ISO 64)

Untuk menuju desa Sikka kami memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Desa Sikka terdapat pada wilayah selatan kabupaten Sikka yang berhadapan langsung dengan laut savu. Adapun Sikka merupakan nama yang berasal dari bahasa Portugis, Sicha yang memiliki arti kering.

Sambutan hangat dari anak-anak penjaga gereja Sikka menyambut kedatangan kami di teriknya matahari siang hari. "Siapa punya nama?" tanyaku "Alfares". Alfares seorang anak muda sekitar 13 tahunan menurut saya, yang menyambut kami dan menceritakan sedikit sejarah mengenai gereja ini.

Gereja Sikka WebNikon D800 + AF-S 70-300 f/4.5 - 5.6 VR (1/500, f/8, ISO 125)

Walaupun masih muda, pengetahuan sejarah Ia sangat lah baik. Ia mampu menceritakan dari awal dibangunnya gereja hingga arsitektur gereja seperti kapal terbalik. Kamipun di undang untuk masuk ke dalam gereja. Saat kami datang keadaan gereja dalam pengerjaan renovasi untuk menyambut kenaikan Isa Almasih. Gereja memang masih tampak berdiri kokoh di atas kayu besi nya. Gempa yang di ikuti tsunami pada tahun 1992, menewaskan 2000 jiwa pun tak menggoyangkan gereja ini. Walaupun sudah berusia sekitar 116 tahun gereja ini masih tetap terawat dengan baik.

Gereja Sikka Web 4Nikon D800 + AF-S 70-300 f/4.5 - 5.6 VR (1/500, f/11, ISO 125)

Alfares bercerita kepada kami bahwa gereja ini dibangun pada tahun 1893 oleh bangsa Portugis dan selesai di resmikan pada tanggal 1899 menjelang hari natal pada bulan Desember. Seluruh arsitektur gereja ini dibangun mengikuti khas eropa barat digabung dengan ornamen motif tenun ikat khas Sikka.

Gereja Sikka Web 5
Akulturasi Budaya Eropa dan Flores Timur
Nikon D800 + AF-S 16-35 f/4 VR Nano (1/30, f/4, ISO 640)

Setelah kami banyak mendengar cerita dari Alfares, kami mengisi buku tamu. Yang membuat saya kaget adalah buku tamu tersebut kebanyakan dari Eropa daripada tamu lokal Indonesia. Begitu takjub saya dengan keingin tahuan wisatawan asing mengani sejarah gereja ini. Setelah mengisi buku tamu kami memberikan donasi sukarela untuk pemeliharaan gereja tua ini agar tetap selalu terpelihara.

Tenun Ikat : Identitas Wanita Flores

tenun 5Sesi Pukul Kapas
Nikon D800 + AF-S 85mm f/1.4G Nano (1/320, f/4.5, ISO 125)

Setelah dari gereja Sikka kami berjalan sedikit untuk melihat pembuatan kerajinan tenun ikat khas Sikka. Kami di jelaskan begitu lengkap dari mulai proses awal pencarian bahan mentah hingga proses finisihig.Uniknya pekerjaan ini di lakukan oleh mama-mama yang menurutku sudah cukup senior di penduduk Sikka.

tenun 4
Sesi Memintal Kapas jadi Benang
Nikon D800 + AF-S 35mm f/1.4G Nano (1/250, f/5.6, ISO 100)

Menenun merupakan identitas bagi perempuan di daerah ini. Seorang perempuan yang tidak pandai menenun akan dipandang "bukan perempuan". Sebab itu menenun ini akan di ajarkan kepada setiap keturunannya agar tetap terjaga di mulai dari kanak-kanak ataupun setelah lulus dari sekolah. Selain menjadi identitas perempuan, menenun juga menunjukkan identitas suatu komunitas yang dapat dilihat dari motif yang dibuat oleh setiap daerah tertentu.

tenun 3
Sesi Ikat Motif
Nikon D800 + AF-S 35mm f/1.4G Nano (1/500, f/5, ISO 100)

Dari proses awal pengerjaan sampai akhir membutuhkan alat yang beraneka ragam, Selama proses pembuatan kain tenun ini dibutuhkan kerjasama dari berbagai kelompok. Diawali dengan memisahlan kapas dari biji, lalu di gulung menjadi gulungan kapas. Setelah digulung lalu di pintal menjadi sebuah benang yang tidak boleh terputus pada saat proses pemintalan ini.

tenun 2
Sesi Pewarnaan
Nikon D800 + AF-S 35mm f/1.4G Nano (1/100, f/3.5, ISO 100)

Setelah proses pemintalan, benang di tata diats kayu yang ditempeli paku, lalu di ikat dengan daun seperti pandan dengan maksud membuat motif sebelum diberi pewarnaan.proses ini membutuhkan waktu 2 (dua) minggu. Kain tenun ikat Sikka yang asli menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan, seperti akar mengkudu yang akan menjadi warna merah kecoklatan atau daun nira yang akan mengeluarkan warna biru.

Tenun 1
Sesi Tenun
Nikon D800 + AF-S 35mm f/1.4G Nano (1/640, f/3.5, ISO 100)

Semakin lama dan sulit proses pembuatan kain tenun ikat akan semakin mahal pula harga jual kain tenun tersebut. dimulai dari harga Rp 75.000 hingga mencapi Rp 3.000.000 bahkan lebih. Setelah cukup lama kami berbincang mengenai proses pembuatan kain tenun ini dari awal hingga akhir. Kami mengisi buku tamu. Dan setelah itu para mama pun langsung menawarkan kain tenun ini beramai-ramai kepada kami.

tenun 6
Sesi Pameran
Nikon D800 + AF-S 35mm f/1.4G Nano (1/60, f/3.2, ISO 100)

Dari sekian banyak tawaran kain tenun, namun yang mampu membeli kain tenun hanyalah Bung Priyo. Ingin sekali menghargai dengan membeli kain tenun itu, namun saya belum siap lahir batin, takut tidak bisa pulang. Mungkin apabila ada waktu dan rezeki saya akan kembali dan membeli kain tenun khas Sikka ini.

jualan
Sesi Penjualan dengan SPGnya
Nikon D810 + AF-S 16-35mm f/4 VR Nano (1/60, f/4, ISO 80)

Kami pun berpamitan kepada para mama pembuat tenun. Tak terasa jam tangan sudah menunjukkan pukul 2.30 sore hari. 2 (dua) jam kami berada di Desa Sikka ini terasa begitu cepat. Perut kosong pun memanggil kami untuk segera di isi.

Laryss & Sunset Pantai Koka

Pantai di Laryys web
Sambil makan Steak Tuna ditemani Panorama Alam Yang Indah
Nikon D810 + AF-S 16-35mm f/4 VR Nano (1/80, f/8, ISO 80)

"Bang Jef, Makan dimana kita yang rasanya yahud?" Tanyaku.

"Ada Bang, Laryss, Disana ada ikan bakar enak. arah mau ke Ende" Jawabnya.

Awalnya saya ingin berfoto sunset di Tanjung Kajuwulu, Magepanda, Namun rencana sunset di tempat tersebut atas keputusan Jalan-Jalan Manis Crew pun berubah menjadi di pantai Koka atas saran Bang Jefri. Berat rasanya untuk saya namun tak apalah. Akhirnya mobil kami melaju menuju tempat makan Larrys. Sesampai disana saya melihat tempat makan ini seperti bukan tempat makan.

ikan
Camera HP, Steak Tuna yang Ngangenin banget. Slurrrp

 Tempat nya sedikit aneh untuk dibilang tempat makan yang menjadi tempat singgah favorit bagi orang yang sedang melakukan perjalanan dari Maumere ke Ende ataupun sebaliknya. Tetapi pepatah "Don't judge a book by it's cover" memang berlaku di tempat makan ini. Kami memesan steak tuna bakar dengan sambal yang membuat lidah dan perut bergoyang. Hmmmm rasanya begitu lezat untuk dilidah saya. Pemandangan pantai yang indah menamani santap siang kami yang sudah kesorean.

Koka3 web
Di Sisi Kanan Terlihat Bung Dicky Sedang Memotret Pantai Koka Dengan Kamera dan Tripodnya
Nikon D810 + AF-S 16-35mm f/4 VR Nano (0.6, f/22, ISO 31)

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai koka yang tak jauh dari Larrys. Pantai ini terdapat di desa Wolowiro, kecamatan Paga. Konon katanya nama pantai Koka diambil dari nama jenis burung yang sering berterbangan disini. Namun burubg tersebut kini sudah sulit untuk ditemukan di sekitar pantai ini. Mungkin karena pantai ini sudah mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan. Ketika kami sampai di pantai ini, langit sudah mulai keemasan menjelang terbenamnya matahari.

Koka Web2
Nikon D810 + AF-S 16-35mm f/4 VR Nano (4", f22, ISO 80)

Yang saya kecewakan adalah ternyata matahari berada di balik bukit, sehingga sunset pun tidak dapat saya saksikan di pantai ini. Memang pantai ini indah dan mengasyikkan bagi mereka yang ingin bermain di pasir dan air lautnya. Anda bisa menaiki tebing dan menyaksikan pemandangan pantai dari atas tebing yang cukup terjal untuk dinaiki. Namun menurut saya tidak cocok untuk pengambilan gambar fotografi baik moment sunrise ataupun sunset. Walaupun begitu saya tetap berusaha mengambil foto walau tidak semangat.

koka 2 web
Sunset Sepi Tanpa Matahari
Nikon D810 + AF-S 16-35mm f/4 VR Nano (30", f/22, ISO 80)

Puas berfoto, saya berjalan kembali ke mobil. Langit sudah mulai gelap. Kami harus meneruskan perjalanan ke Ende. Dibutuhkan waktu kurang lebih 4 (empat) jam dari Maumere ke Ende. Jalan yang berkelok kelok akan menjadi teman selama perjalanan itu. Beruntungnya perjalanan malam membuat saya yang ringkih akan jalan yang berkelok-kelok itu bisa saya hindari dengan tidur. Dan selama perjalanan dari Maumere ke Ende saya pun tidur.

Hening Bersama Taburan Bintang di Desa Moni, Ende

Karena tidur pulas, tanpa terasa kami sudah sampai di Desa Moni yang menjadi gerbang untuk menikmati terbitnya matahari di danau 3 (tiga) warna yang pernah ada di uang pecahan Rp 5.000 pada tahun 1990-an, Ya Danau gunung Kelimutu. Kami pun memutuskan untuk bermalam di Sylvester Home Stay. Dengan menyewa 2 (dua) kamar. Harga 1 (satu) kamar untuk semalam Rp 350.000 dengan disertai sarapan. Sayapun melakukan negosiasi dan dapat harga "kasian" oleh pemiliknya dengan total Rp 500.000 untuk 2 (dua) kamar. Lumayanlah untuk saya dengan harga segitu, dilengkapi fasilitas air panas dan sarapan. Atas saran bang Jefri kami makan di Cafe Bintang dengan sajian menu ala western food. Dengan range harga sekitar Rp 35.000 - 85.000 untuk makanan. Memamg harga yang ditawrkan cukup mahal, ya pantas saja lah, hampir semua yang ada di kafe tersebut adalah tamu bule semua.

milky way moni webTaburan Bintang Menemani Kosongnya Malam
Nikon D810 + AF-S 20mm f/1.8G Nano (30", f/2, ISO 1000)

Menariknya keahlian sulap Bung Akmal bisa di tunjukkan di cafe tersebut, yang menyebabkan kehebohan hingga malam. Semua yang ada di cafe tersebut takjub dengan permainan sulap kartu yang di mainkan Bung Akmal. Ekspresi dan emosi para tamu dan guide/driver tampak begitu lucu dan penasaran sehingga mereka pun akhirnya adu argumen untuk saling mencari tahu bagaimana trik sulap itu bisa terjadi.

Milky way moni web 2
Memotret Tiang Listrik
Nikon D810 + AF-S 20mm f/1.8G Nano (30", f/2, ISO 1000)

Malam semakin larut, tubuh sudah semakin lelah, kami berpamitan kepada teman-teman baru di cafe Bintang. Kami berjalan dari cafe menuju home stay. Langit begitu cerah dihiasi kilauan kerlap kerlip bintang.
Harapan esok mendapatkan best moment sunrise di Kelimutu menjadi hal yang pasti akan saya dapatkan dengan cuaca sebaik ini. Saya pun mulai mencoba mengambil gambar langit di desa moni di depan homestay saya menginap. lalu saya tidur unruk mempersiapkan stamina dan bagun lebih awal menuju tujuan impian saya. Sampai ketemu esok Kelimutu, berikan sinar terbaikmu!

 

INFORMASI Tambahan :

 1. Bang Jefri driver Maumere (th 2014)

No Hp : +6281337060356

FB : https://www.facebook.com/jefriedho?fref=pb&hc_location=profile_browser

 

2. Sylvester Homestay di Moni

Alamat : Jl. Trans Moni

Moni - Ende, NTT

Buka Harga Rp 350.000/malam dengan fasilitas air panas dan sarapan 2 -3 bed. (th 2014)

 

3. Restoran Rekomendasi :
Laryss, Maumere

 

 

 

  • +62-812-1822-516
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Follow Me!