Journal

  • Home
  • Journal
  • Mengubek Eksotika Negeri Flores Part II (Flores Overland)

Mengubek Eksotika Negeri Flores Part II (Flores Overland)

Hari Kedua Dari Enam Hari di Pulau Flores, NTT

Saya terbangun sebelum alarm di smartphone saya berdering yang di set pada pukul 03.00 pagi. Entahlah, hal itu telah menjadi kebiasaan saya setiap saya melakukan perjalanan untuk mendapatkan foto sunrise. Saya bangkit dari tempat tidur dan mengintip keluar jendela, Suasana di luar masih begitu sepi. Sayapun kembali berbaring-baring di tempat tidur. Ini menjadi kisah hari kedua saya di Flores yang dimulai dari Desa Moni, Ende. 

jalan 4

Selang setengah jam, terdengar deru mobil yang mulai di nyalakan. Kami berencana berangkat dari Moni menuju Kelimutu pukul 04.00 pagi. Pakaian khas pegunungan dengan jaket tebal agar melindungi dari angin dan suhu dingin, Namun Moni tidak sedingin daerah pegunungan yang pernah saya kunjungi. Dinginnya masih nyaman untuk saya pribadi. Kam ipun langsung berangkat ke kelimutu.

Kabut Kelimutu

Jalan

Kelimutu merupakan gabungan dari kata Keli yang memiliki arti gunung dan Mutu yang memiliki arti mendidih. Hanya membutuhkan 30 - 40 menit perjalanan dari Moni untuk menuju pintu gerbang awal pendakian gunung Kelimutu ini dengan kendaraan Dengan trekking ringan sekitar 30 - 40 menit pula kita dapat mencapai puncak gunung dengan ketinggian 1.639 meter ini.

jalan 1

Dengan perjalanan berkelok-kelok yang disertai kabut, mengingatkan perjalanan menuju pos Paltuding pada saat mendaki kawah Ijen. Jam 5 kurang kami sudah sampai di gerbang utama pendakian. trekking-pun kami mulai segera mungkin, agar dapat posisi yang yahut di atas nanti. Pendakian ternyata tidak sulit, mungkin kalau saya bilang lebih sulit naik ke gunung Ijen daripada Kelimutu.

orang 1

Van Such Telen adalah seorang warga Belanda yamg menemukan kawasan ini pada tahun 1915. Lukisan tangan keindahan kelimutu ini di lukis oleh Y. Bouman pada tahun 1929 yang membuat danau kelimutu ini kian populer oleh turis asing dan penggiat alam. Kawasan ini menjadi konservasi alam nasional pada tahun 1992. Kami membayar tiket hari libur sebesar Rp 4.500/orang.

 jalan 2

Kami memilih berjalan tanpa menggunakan jasa pemandu. Kami hanya mengikuti seorang ibu yang hendak berjualan aneka minuman hangat dan kudapan ketika di atas nanti. Di tengah perjalanan, hati saya mulai gusar. Kabut yang begitu tebal mulai menutupi jarak pandang kami berjalan. Yang saya khawatirkan adalah kabut ini akan awet sampai matahari terbit. Ada rasa down di hati saya, namun tak tahu dengan teman-teman saya, Berpikir positif yang membuat saya tetap meneruskan perjalanan menebus impian ini.

jalan 3

Jalan setapak kini mulai berubah menjadi tangga semen. Itu tanda perjalanan kami akan segera sampai ke titik puncak kelimutu. Naik anak tangga ini memang membutuhkan stamina lebih dibandingan jalan setapak, karena menurut saya lebih melelahkan. Kalau saya bisa memilih, lebih baik mendaki di permukaan tanah ketimbang naik tangga. Satu demi satu kami lewati anak tangga. Dan... Akhirnya sampai jugalah kami di puncak kelimutu. Disana sudah ada beberapa wisatawan asing dan wisatawan lokal yang sudah duduk manis menunggu terbitnya matahari.

Kawah 5

Benar saja, Hingga pukul 05.30 masih belum tampak apapun, kabut yang begitu tebal menutupi segalanya. Yang terlihat hanyalah para pengunjung dengan wajah kecewa. Harapan untuk melihat sunrise terindah pun kini sirna.

orang 3

Kami memutuskan untuk tetap menunggu hingga alam membuka jendela kabutnya untuk melihat danau unik ini. Danau ini terbentuk dari kawah akibat letusan gunung yang terjadi dahulu kala.

Kawah

Hampir tiga jam kami menunggu, akhirnya satu kawah terbuka. Kawah dengan warna biru gelap yang terpisah dari dua kawah lainnya. Orang lokal sini menyebut kawah ini adalah kawah Tiwu Ata Mbupu yang di percaya tempat dimana roh-roh orang tua berkumpul. Satu kawah terbuka, seluruh orang berkumpul dan berfoto seakan sedang menyaksikan kejadian yang langka. Tak mau kalah kami pun juga ikutan di kumpulan mereka itu untuk berfoto.

kawah 8

Dan benar saja, terbukanya kawah sisi barat ini tak berlangsung lama. Tidak ada sinar matahari, tidak ada aktivitas bergerak membuat tubuh kami kaku membeku. Kami berusaha menggerakkan tubuh kami agar tidak kaku karena hempasan angin yang cukup kencang.

orang 2

Sembari menunggu kabut terbuka kami melakukan senam kecil dan memperhatikan dua orang  perempuan yang sedang mengelilingi tugu Soekarano layaknya orang yang sedang melakukan thawaf di Ka'bah. Berkali-kali kami lihat ia berputar dan akhirnya kami saling bertegur sapa dan mulai berbincang hingga bertukar pengalaman.

 orang 4

Nurul dan Natalia adalah teman baru yang kami temukan ketika menunggu kabut kelimutu terbuka. Ia melakukan perjalanan seorang diri. Dan uniknya mereka juga baru saling kenal di pulau Flores ini. Tak lama kami ngobrol kini matahari mulai menyapa kami dari balik kabut. Yeaaaay akhirnya kabutnya perlahan menipis. Dan semua orang sibuk dengan masing-masing kameranya.

Kawah 4

Berbagai mitos kepercayaan penduduk setempat berkaitan dengan perubahan warna yang terjadi danau kelimutu ini. Khususnya danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai. Konon katanya danau ini di huni oleh jiwa-jiwa muda yang penuh semangat sehingga membuat kawah ini lebih sering berubah warna daripada kawah lainnya.

Kawah 3

Lalu kawah yang terakhir adalah kawah Tiwu Ata Polo. Kawah ini adalah kawah yang menakutkan bagi penduduk setempat. Karena kawahn ini di huni oleh arwah orang jahat. Ada kala setahun sekali di kawasan ini diadakan upacara Pati Ka Du'a Batu Ata Mata, dengan maksud 'memberi makan" kepada penghuni kawah tersebut berupa sesaji seperti sirih pinang, rokok, lauk, nasi bahkan sampai sopi atau moke (baca : arak/tuak). Dipercaya dengan diadakan upacara ini penduduk setempat akan mendapatkan berkah dan keselamatan. Upacara ini diadakan tanggal 14 Agustus setiap tahunnya.

kawah 7

Selesai berfoto, kami segera turun dan sarapan di kantin gerbang kelimutu. Sesampainya di hotel segera bersih-bersih dan berkemas untuk check out. Perjalanan berikutnya kami menuju Ende. Dengar-dengar sih perjalanan nya berkelok-kelok selama 4 (empat) jam dan disertai rawan longsor. Duh, harus segera tidur ini selama perjalanan.

Ngopi di Kampung Wologai - Ende

jalan 5

Menuju perjalanan dari Moni ke Ende kami singgah sebentar ke kampung adat Wologai di kecamatan Detusoko. Kedatangan kami di sambut oleh para mama-mama yang sedang duduk santai dekat pohon besar yang sebagai pintu awal memasuki kampung adat tersebut. Kampung ini disebut tradsional karena masih memegang teguh gaya arsitektur adat masyarakat Lio lengkap dengan altar yang disucikan oleh masyarakat kampung ini yang berupa susunan bebatuan. Konon katanya apabila kita menyentuh altar bebatuan itu akan terjadi angin puting beliung.

Wologai 1

Wologai 4

Wologai 5

Pada Oktober tahun 2012 pernah terjadi kebakaran hebat di kampung ini yang menghanguskan seluruh rumah yang sudah berusia ratusan tahun sebanyak 22 rumah. hanya dalam 15 menit saja seluruh rumah di kampung Wologai ludes terbakar di lahap si jago merah. Tak terbyangkan sebanyak 15 kepala keluarga dengan 75 warga kehilangan harta dan tempat tinggal hnaya dalam sekejap.

Wologai blog 4

People Wologai 4

DSC 1913BLOG KUCING2Namun kini atas bantuan dari pemerintah setempat. Kampung ini dibangun kembali dengan tetap mempertahankan arsitektur masyarakat Lio. Para mam pun berujar ia kebih senang tinggal di runah yang lama daripada di rumah yang baru, namun ia tetap bersyukur masih ada bantuan pemerintah yang mau membangun kembali kampung tradisional ini. Ketika kami datang baru ada 17 rumah adat yang sudah dibangun dan di tinggali dengan bentuk yang sama dengan bangunan sebelumnya.People Wologai 5

People Wologai 1

People Wologai 2

Saya berbincang cukup lama dengan para mama yang baik hati, Kami disuguhkan kopi asli khas flores dari kebun kopinya. Wah kopi robusta begitu nikmat kami seruput perlahan sambil menikmati sejuknya udara di desa ini. 

People Wologai 6

DSC 0300

Kopi buatan nenek tertua di kampung ini nikmat terasa walau sedikit terasa seperti kolak kopi  karena rasa manisnya. Ingin lebih lama berbincang dengan penduduk kampung ini, namun waktu terus berjalan, kami harus segera melanjutkan perjalanan ke Bajawa. Sebelum berpamitan kami melakukan foto bersama terlebih dahulu.

Hilangkan Penat Perjalan di Pantai Batu Hijau

pantai batu hijau ende 3

Masih butuh perjalanan kurang lebih 3 jam-an dari Ende menuju Bajawa. Perjalanan melewati perbukitan dan lembah ini dihiasi dengan reruntuhan lonngsor yang membuat kendaraan kami lebih berhati-hati dalam berkemudi. Ingin rasanya cepet menyelesaikan perjalanan mengocok perut ini.

pantai batu hijau ende 5

Di tengah perjalanan kami singgah di pantai batu hijau, mungkin beberapa orang menyebutnya pantai batu biru, kalau saya inginnya sih menyebutnya pantai batu toska. Kenapa disebut dengan pantai batu hijau? karena di pantai ini memang terdapat batu berwarna hijau kebiruan. Batu yang dijadikan sumber penghasilan tambahan bagi kampung sekitarnya ini memang memikat para pelancong agar menepikan kendaraannya dan melepaskan penat setelah melewati jalan berkelok-kelok. 

pantai batu hijau ende

Terlihat disana ada beberapa orang yang sedang mengumpulkan batu-batu dengan memilah batu sesuai dengan ukuran dan warnanya. Setelah batu terkumpul, lalu di masukkan kedalam karung terigu dan di perjualbelikan.  

pantai batu hijau ende 2

pantai batu hijau ende 4

Hari semakin sore, agar tidak kemalaman sampai di Bajawa kami melanjutkan perjalanan.

  • +62-812-1822-516
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Follow Me!